Review buku konsep tuhan perspektif pelacur

Tugas Review buku konsep Tuhan perspektif pelacur karya mohammad erfan dan umiarso (2014)
Nama               : fathul khairi
Nim                 : 16610016
Prodi               : matematika

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA



LATAR BELAKANG MASALAH
Adapun latar belakang dilakukannya penelitian ini oleh mohamad erfan dan umiarso (2014) adalah sebagai berikut, penulis berusaha untuk membahasakan kembali maksud dari latar belakang yang terdapat dalam buku tersebut
Konsep keTuhanan yang dikenal manusia secara luas mengatakan bahwa Tuhan merupakan suatu dzat yang memiliki kekuasaan tak terbatas, memiliki kebenaran mutlak dan sebagai sang maha pencipta yang dalam pandangan berbagai agama menyatakan bahwa Tuhan adalah jawaban dari segala pertanyaan kehidupan. Berbeda dengan hal itu, pelacur sebagai mahluk sosial yang menceminkan banyak fenomena masih menjadi perdebatan bagi beberapa kalangan apakah pelacur tersebut menjual dirinya sendiri atau hanya untuk nafsu seksual semata. Adanya perbedaan status ini, menyebabkan masyarakat menjadi terlalu buruk dalam menilai seorang pelacur, bahkan sangat buruk dalam pandangan mereka.
Namun pada kenyataannya, hal ini telah melahirkan perdebatan selama berabad-abad lamanya dimana hal yang diperdebatkan adalah bahwa terdapat pelacur suci, yaitu menurut mohammad erfan dan umiarso (2014) dikatakan sebagai pelacur Tuhan. Namun berbagai komentar dan stigma negatif selalu saja melekat pada para pelacur ini. Padahal keterlibatan pihak lain, dalam hal ini “pelanggan” adalah hal yang juga tidak bisa dikesampingkan dalam dunia pelacuran. Pemahaman yang hanya secara tekstual terhadap Al-Qur’an dan hadis yang banyak disalahgunakan menyebabkan berbagai ketimpangan dalam menemukan solusi atas permasalahan ini. Pemahaman secara tekstual dimana perempuan memang diidentikkan hanya sebagai ibu atau pemuas nafsu menjadi bagian dari berbagai  problema kehidupan perempuan, hingga praktik prostitusi. Seksualitas dalam diri manusia merupakan sebuah hukum alam yang berasal dari Tuhan, yang mana semua itu merupakan aktivitas biologis manusia.  Berkaitan dengan penyimpangan seksual seperti prostitusi, ternyata prostitusi bisa dipandang sebagai suatu stigma negatif dalam kehidupan sosial juga sebagai suatu pilihan hidup yang merupakan hak setiap orang yang sering ditutup-tutupi. Artinya dalam diri pelacur ada sisi dimana pelacur mengalami kegalauan hidup, terlebih saat mereka sedang tidak berada dalam lingkaran praktik prostitusi. Mereka mencari suatu jati diri berupa sesuatu yang sakral. Ternyata dunia prostitusi menurut mohammad erfan dan umiarso dapat dibagi dalam 2 varian, yaitu sebagai panggung depan yang memungkinkan pelacur untuk bermain sesuai penampilan formalnya dan sebagai panggung belakang dimana di sisi ini terpampang sisi lain perasaan pelacur yang kontradiktif dengan penampilan formalnya dan juga kerinduan pelacur akan Tuhan.
Dengan berbagai fenomenda dan teori diatas, maka hal itu yang menjadikan latar belakang perlunya dilakukan kajian dan riset untuk mengkaji secara mendalam permasalahan diatas. Yang mana akan bisa dikembangkan atau menemukan suatu teori baru bahwa pelacur juga mahluk religius yang memiliki perasaan akan konsep keTuhanan.
RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana pandangan pelacur tentang tauhid?
2.      Bagaimana pelacur mengimplementasikan ketauhidannya?
3.      Bagaimana bentuk pengakuan islam, iman dan ihsan menurut pelacur?
4.      Bagaimana konsep taubat, hari kematian dan pembalasannya menurut pelacur?


METODOLOGI PENELITIAN
Metodologi penelitian yang digunakan mohammad erfan dan umiarso dalam melakukan penelitian tentang isi buku konsep Tuhan perspektif pelacur adalah menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan wawancara secara langsung kepada para pelacur di suatu tempat.
ANALISIS HASIL PENELITIAN
Review singkat...
Saya mendapatkan bahwa penulis buku ini banyak menggunakan pendekatan fenomenoligis dan sosiologis dalam penelitiannya. Dari analisis terhadap konsep struktur isi buku, penulis memulainya dengan  cukup baik dengan memberikan pengantar yang cukup kepada pembaca tentang konsep Tuhan dan pelacur yang dipisahkan. Penggunaan struktur bahasa yang ilmiah membuat buku ini semakin terasa kuat nuansa riilnya. Namun, ada kelemahan menurut saya dalam penulisan buku ini. Yaitu, penulis bahasanya mungkin untuk masyarakat awam masih terlalu tinggi sehingga susah dipahami. Padahal seharusnya yang menjadi objek utama pembaca buku ini adalah masyarakat secara umum, agar mereka dapat mengerti konsep Tuhan dan pelacur dan konsep Tuhan menurut perspektif pelacur
Pembahasan isi
Mohammad erfan dan umiarso (2014) menyatakan bahwa Pelacur memandang seksualitas ternyata berbeda dengan pandangan masyarakat secara umum, bahkan dengan pandangan agama. Pelacur memandang seksualitas sebagai suatu bentuk marginalisasi perempuan dan juga sebagai bentuk pelampiasan semata oleh kaum laki-laki untuk mendapat kenikmatan tanpa adanya landasan cinta. Dalam tulisannya mereka juga menyatakan bahwa dalam kasus ini tubuh wanita dianggap sebagai sesuatu bentuk komoditas eksploratif. Dari sini kita dapat memahami bahwa semua orang akan mengeksploitasi dan memperdagangkan sesuatu yang ada pada tubuh mereka untuk memenuhi kebuTuhan hidupnya termasuk dalam konteks ini adalah perilaku seksualitasnya (moh. Erfan, 2014). Posisi pelacur dihadapkan oada dualisme pemahaman yang sedang berkembang di masyarakat, ada yang memahami bahwa pelacur itu adalah perempuan-perempuan miskin yang menjajakan dirinya untuk memenuhi kebutuhn hidupnya, namun ada juga yang mengatakan bahwa pelacur sejatinya  merupakan suatu posisi yang mulia di tengah laki-laki karena mau terbuka dalam menunjukkan aset kepribadiannya, meskipun dengan harga tinggi. Mereka (baca;laki-laki) memandang mulia pelacur ini karena dianggap mampu untuk jujur terhadap aset yang dimilikinya. Keberadaan placur ini tentu saja tak bisa diangap sebatas perkumpulan orang-orang yang menjual diri dan berbagai pelanggannya. Namun dilihat dari sisi yang lain akan ditemukan bahwa dunia pelacuran juga merupakan sebuah dunia politik, dimana ada sekelompok pemilik modal yang bersekongkol untuk menjadikan dunia pelacuran ini sebagai suatu komoditas yang menggiurkan. Bagaimana tidak, sudah bukan  rahasia umum lagi jika kita menemui bahwa dalam dunia pelacuran pun ada istilah “pelacur bintang lima”. Sehingga dapat dimaknai bahwa pelacur dianggap juga sebagai sebuah lahan uang bagi beberapa pihak.
Dari tulisan-tulisan yang telah saya baca saya mendapati bahwa menurut mohammad erfan dan umiarso (2014), pelacur disamping melakukan berbagai kegiatan yang berupa identitas ke-pelacurannya seperti menggunakan baju, parfum dan aksesoris yang mengundang birahi ternyata mereka juga memiliki sisi tertekan. Sisi tertekan ini terkadang muncul dalam diri mereka baik saat mereka didalam posisi yang menyenangkan saat mereka berhadapan dengan gemerlap dunia pelacuran maupun saat mereka dalam posisi sendiri merenungi hidupnya. Mereka merasakan suatu kekosongan yang tak mampu dijelaskan oleh kata-kata dalam diri mereka. Mereka seperti merasa kehilangan sesuatu yang sangat penting dalam hidup mereka. Hal ini tentu mengakibatan munculnya suatu persepsi bahwa didalam diri pelacur itu masih terdapat suatu ruang didalam hatinya untuk merindukan kehadiran sosok Tuhan. Jika kita kembalikan kepada definisi sebelumnya menurut mohammad erfan dan umiarso (2014) bahwa sesungguhnya jawaban dari segala pertanyaan tentang kehidupan adalah Tuhan, maka kita dapat memahami bahwa yang sebenarnya dibutuhkan oleh para pelacur ini untuk menemukan ketenangan dalam dirinya adalah Tuhan.
Mohammad erfan dan umiarso (2014) dalam bukunya juga menuliskan tentang bagaimana pergolakan hati pelacur dalam memaknai kehidupannya. Disisi lain ia merasa Tuhan hadir dalam dirinya sebagai suatu eksistensi yang murka dan ingin membalas atas dosa-dosa yang mereka lakukan. Namun disisi lain, Tuhan hadir sebagai dzat yang maha pengasih dan penyayang yang memberikan kedamaian, ketentraman, kebahagiaan, dan mampu memenuhi segala harapannya yang tak mampu ia wujudkan. Dengan demikian dari sisi ketauhidan, pelacur memiliki ruang didalam dirinya tentang konsep keTuhanan meskipun ia belum bisa mengimplementasikan ketauhidannya dengan baik. Meskipun demikian mereka juga masih mempercayai akan adanya hari akhir dan hari pembalasan (salah satu bagian dari rukun iman)
Ø  Pandangan pelacur tentang tauhid
Dari tulisan mohammad erfan dan umiarso dapat kita maknai bahwa sesungguhnya didalam diri pelacur itu didalam hati dan perasaannya mereka masih mengakui adanya Tuhan sebagai pngatur kehidupan dan yang akan memberi pembalasan di hari pembalasan kelak. Namun berbagai gejolak kehidupan dan perasaan yang dihadapi oleh para pelacur ini membuat mereka seperti berada dalam sebuah penjara. Mereka dihadapkan pada pergolakan perasaan dimana mereka merasa sangat berdosa di satu sisi, dan di sisi lain mereka merasa bahwa semua ini sudah takdir Tuhan dan sangat sulit bagi mereka untuk kembali ke jalan yang benar, selain karena masih beratnya himpitan ekonomi juga karena sudah terlanjur melekatnya pandangan buruk masyarakat tentang diri mereka.
Ø  Bagaimana pelacur mengimplementasikan ketauhidannya
Dari tulisan  mohammad erfan dan umiarso, saya menemukan bahwa pelacur memaknai dan mengimplementasikan ketauhidannya dengan jalan mereka sendiri. Dengan demikian masih ada sisi tauhid dalam diri mereka, meskipun dalam implementasinya mungkin berbeda dengan masyarakat pada umumnya.  Seperti dalam sebuah kutipan perkataan seorang pelacur, sebut saja mawar yang tertulis pada paragraf 1 halaman 291 yang berbunyi
“...aku merasa seperti tersadar dar tidur panjang yang jika aku rindu Tuhan hanya sebatas kerinduan dalam hati tanpa ekspresi..”
Dari kalimat itu kita dapat memaknai bahwa sesungguhnya dalam diri pelacur itu masih ada benih-benih ketauhidan, rindu akan hadirnya sosok Tuhan. Jika demikian, Tuhan sebenarnya telah hadir dalam dirinya, hanya saja dia (pelacur) ini belum bisa memaksimalkan tindakannya dalam mengekpspresikan ketauhidannya itu. Dari fakta tersebut kita juga dapat melihat bahwa sesungguhnya para pelacur ini memiliki peluang yang sama dengan manusia lainnya untuk mencapai titik terbaik dalam ketauhidannya.
·         Bagaimana konsep iman, islam dan ihsan bagi pelacur
Hakim Abdul Hameed mengatakan bahwa:“seorang yang hatinya benar-benar terikat pada iman (percaya kepada Tuhan), pada Islam (berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan) dan menjalankan ihsan (berbuat baik) adalah seorang muslim”
Dari pernyataan diatas sebenarnya kita juga dapat memahami arti iman, islam dan ihsan bagi pelacur menurut tulisan mohammad erfan dan umiarso (2014). Dalam tulisannya mereka menuliskan bahwa sebenarnya pelacur juga menjalankan perintah-perintah Tuhan, disamping dirinya yang juga berbuat maksiat. Hal ini tampak dari sebuah kutipan pada paragraf 1 halaman 265 yang berbunyi
 “mas, aku menjalankan perintah agama semata-mata aku berharap Tuhan mengampuni aku. Aku yakin Tuhan maha tahu apa yang aku rasakan dan mengapa aku menjalani kehidupan ini”
Dari pernyataan ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa dalam hati para pelacur ini sebenarnya masih ada iman, islam dan ihsan meskipun ketiganya belum berjalan dengan baik. Kita juga dapat melihat bagaimana pergolakan hati pelacur atas ketakutannya atas perbuatannya. Mereka masih merasa bahwa ada kehidupan lain setelah ini, dengan kata lain mereka masih beriman kepada Allah dan hari akhir
·         Bagaimana konsep taubat, hari kematian dan pembalasannya
Dari tulisan mohammad erfan dan umiarso (2014) diterangkan bahwa sebenarnya pelacur juga meyakini akan adanya hari akhir dan hari pembalasan. Mereka dalam hidupnya selalu diliputi rasa cemas dan takut akan segala dosa yang mereka lakukan. Mereka juga tetap melakukan sholat, dan perintah agama lainnya. Hal ini sebenarnya sebagai salah satu bentuk taubat yang mereka lakukan. Hanya saja, karena taubat yang mereka lakukan tidak seperti taubat yang diajarkan dalam islam, sehingga mereka akan cenderung tetap dijalan maksiat tersebut. 

KESIMPULAN
Pelacur adalah sama seperti manusia lainnya, hanya saja mereka memiliki masalah yang berbeda dari manusia pada umunya. Mereke diliputi ras bersalah dan dalam hati merek tetap merindukan sosok Tuhan untuk hadir.
Saya merekomendasikan kepada pembaca review ini untuk membaca buku konsep Tuhan perspektif pelacur yang telah saya review, karena buku ini mampu membuka wawasan kita secara mendalam tentang pelacur yang sebenarnya. Agar kita tidak hanya menjudge mereka karena perilaku mereka. Namun kita bisa memandang sisi lain dari pelacur dalam buku ini.


Komentar

Postingan Populer