kebangkitan hati
aku selalu mencoba untuk merasa dan bersikap biasa, tiap kali tatapan matamu yang dalam itu membuatku jatuh. jatuh hati
dan ku benci saat ku rasa perlu tuk mencari tau, menggali makna dibalik tatapan itu.
aku tersihir oleh apa hingga sempat ku sejenak tersenyum, membayangkan bahwa sebuah tatapan itu memiliki makna bahwa kau menyukaiku. bodohnya diriku.
setiap saat ku tersadar, seolah ku merasa kembali tangguh. namun ketangguhanku itu seketika runtuh kala kedua matamu kembali menjatuhkanku. Membuatku berkhayal, membayangkan bahwa di dalam tatapanmu, ada perasaan yang sama denganku. Membuatku bodoh, menghabiskan ribuan detik hanya untuk mengusikmu lewat status status dunia maya, menyelam dalam semua memorimu yang sempat kau bagi. Yang jelas jelas tak ada diriku sama sekali. Perasaan ini seakan mengikat. Aku sebenarnya lelah..
lalu ku harus bagaimana?
haruskah ku lari dari kenyataan ini ? lantas aku kalah?
Tidak.. Aku sama sekali tidak kalah jika aku lari. Karena sejatinya kewajibanku adalah untuk lari, jauh dan semakin jauh. Karena jika aku tetap diam dan terpaku dalam tatapan bisu, khayalan liarku akan semakin membungkusku dalam kebodohan sikap dan fikiran yang merugikan.
Ku deklarasikan kebangkitan hati ini, untuk seorang penipu sepertimu. Tatapan matamu sam sekali tak mengandung cinta.
Selamat tinggal tipuan, selamat datang kenyataan
~Yogyakarta 12 oktober 2016~
dan ku benci saat ku rasa perlu tuk mencari tau, menggali makna dibalik tatapan itu.
aku tersihir oleh apa hingga sempat ku sejenak tersenyum, membayangkan bahwa sebuah tatapan itu memiliki makna bahwa kau menyukaiku. bodohnya diriku.
setiap saat ku tersadar, seolah ku merasa kembali tangguh. namun ketangguhanku itu seketika runtuh kala kedua matamu kembali menjatuhkanku. Membuatku berkhayal, membayangkan bahwa di dalam tatapanmu, ada perasaan yang sama denganku. Membuatku bodoh, menghabiskan ribuan detik hanya untuk mengusikmu lewat status status dunia maya, menyelam dalam semua memorimu yang sempat kau bagi. Yang jelas jelas tak ada diriku sama sekali. Perasaan ini seakan mengikat. Aku sebenarnya lelah..
lalu ku harus bagaimana?
haruskah ku lari dari kenyataan ini ? lantas aku kalah?
Tidak.. Aku sama sekali tidak kalah jika aku lari. Karena sejatinya kewajibanku adalah untuk lari, jauh dan semakin jauh. Karena jika aku tetap diam dan terpaku dalam tatapan bisu, khayalan liarku akan semakin membungkusku dalam kebodohan sikap dan fikiran yang merugikan.
Ku deklarasikan kebangkitan hati ini, untuk seorang penipu sepertimu. Tatapan matamu sam sekali tak mengandung cinta.
Selamat tinggal tipuan, selamat datang kenyataan
~Yogyakarta 12 oktober 2016~


Komentar
Posting Komentar