persatuan tanpa kebencian



Negara indonesia sebenarnya merupakan sebuah negara yang besar, kuat dan istimewa. Terbentang dari sabang sampai merauke. Terkandung didalamnya berjuta pesona dan kekayaan alam. Terpancar dari wajahnya keberagaman suku, budaya dan bahasa.

Lihatlah senyuman mereka, anak-anak yang tertawa riang bermain kelereng di halaman rumah. Atau, para nelayan yang begitu bangga menenteng ikan-ikan hasil tangkapannya. Atau para pejabat yang dengan senyum manisnya berjalan menyapa para petani di sebuah desa, mendengarkan aspirasi dari mereka. Atau bagaimana dengan kegigihan seorang pedagang yang tak kenal lelah selalu menggerakkan roda perekonomian. Ah, ini hanya sedikit dari sebuah realita yang seharusnya tak hanya bersarang dalam imajinasi anak bangsa. polemik kebangsaan yang saat ini banyak menggusur cita-cita luhur, semakin menenggelamkan imajinasi itu kedalam jurang kemustahilan yang tak berkesudahan.

Negaraku, Indonesia. Seandainya saja kami semua sadar bahwa hanya persatuanlah yang akan benar-benar mampu mengantarkanmu menembus gerbang kemerdekaan yang sebenarnya. Persatuan yang sejati, tanpa disisipi rasa kebencian yang menjadi duri.

Sejatinya, tak ada sesuatu pun yang terlewatkan tanpa sebuah proses yang mengiringinya. Begitu pula dengan negara indonesia. Negara ini sejatinya sedang berproses, dan akan selamanya berada dalam suatu proses. Dari lahirnya seseorang yang baru, hingga wafatnya negara ini akan tetap berproses. Satu hal terpenting yang seharusnya kita pahami bahwa ada hal yang utama dalam proses-proses itu, yaitu mengambil hikmah dan pelajaran. Memang, hal ini terdengar sangat klasik bahkan mungkin membosankan bagi sebagian orang. Namun sebenanrnya hal inilah yang menyebabkan kegagalan sebuah revolusi mental, yaitu dimana sebuah kebaikan dianggap sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman. Tanpa kita sadari, bahwa dalam setiap proses yang terjadi kita lebih banyak berfikir bagaimana caranya untuk memperoleh keuntungan yang banyak untuk diri kita atau kelompok kita dari proses itu. Padahal, proses ini adalah suatu proses kebangsaan, dimana kita harus mengutamakan kepentingan bangsa ketimbang kepentingan pribadi atau kelompok. Kita terlalu jauh tenggelam dalam perasaan kekinian yang salah arah. Kita tenggelam dalam doktrin sebuah kalimat “huh, lebay” dan sejenisnya. Indikatornya adalah, mungkin saat ini ketika kita mendengar kata-kata ambillah hikmah dan pelajaran dari suatu peristiwa didalam pikiran kita yang muncul justru kata-kata bahwa yang mengatakan adalah orang yang lebay.

Kemunduran-kemunduran ini sejatinya juga merupakan suatu proses, yaitu proses ke arah yang lebih buruk. Ingat saudaraku, tidak semua yang dikatakan rang kekinian itu adalah sesuatu yang baik. Karena kita sendiri belum tahu benar apa itu definisi kekinian sehingga kita bisa mengetahui batasan-batasannya. Kita terlalu tenggelam dalam pengaruh media yang hanya mengambil keuntungan dari keterlibatan kita tanpa memperhatikan “efek samping” dari perbuatan mereka.

Polemik keberagaman juga nampaknya menjadi suatu proses yang mengancam keutuhan negara kita. Bagaimana tidak, hal-hal kecil yang seharusnya bisa dicari akar permasalahannya dengan berdiskusi secara hangat pun harus menjadi sebuah hal yang besar yang berujung perpecahan dimana-mana. Memang, menyatukan persepsi antara beberapa kelompok yang memiliki perbedaan pandangan adalah sesuatu yang tidak mudah, namun bukan berarti tidak mungkin menemukan jalan terbaik untuk persoalan itu. Kadang, pikiran kita sudah terlalu keruh karena hanya menerima informasi dari salah satu pihak dan menjadikannya sebagai sebuah alasan untuk membenci pihak lain. Padahal, sebuah informasi yang disebarkan atas dasar kebencian itu tidak bisa langsung saja diterima secara mentah-mentah atas dasar apapun. Sebagai masyarakar yng cerdas, tentunya kita dapat membedakan mana informasi yang disebarkan atas dasar kepentingan negara atau yang hanya atas dasar kebencian kepada salah satu pihak. Ada istilahnya haji mumpung juga dalam terjadinya suatu peristiwa. Dimana salah satu pihak seperti merasa mendapatkan momentum yang sangat tepat, seperti ketiban duren untuk menyerang pihak lain. Dan sayangnya, masih banyak dari masyarkat kita yang mudah sekali terprovokasi atas peristiwa itu. Mudah sekali dimanfaatkan oleh pihak tertentu dengan mengandalkan peristiwa haji mumpung itu. Menyebarkan kebencian melalui peristiwa yang sedang terjadi, istilahnya mengkambinghitamkan peristiwa untuk kepentingan diri sendiri saja.

Masyarakat juga sudah seharusnya cerdas dan bisa menilai sesuatu berdasarkan sudut pandang historis dimana suatu peristiwa dipandang dalam bingkai sejarah para pelakunya. Misalkan saja ketika kita kembalikan kepada istilah aji mumpung diatas, tentang bagaimana suatu pihak memanfaatkan suatu peristiwa sebagai alasan kuat untuk menyerang pihak tertentu. Seperti ketiban duren, mereka bersorak riang akhirnya momentum seperti ini datang juga, mereka tak perlu bersusah payah menyerang pihak tertentu secara langsung. Mereka hanya tinggal memanfaatkan peristiwa itu untuk mendoktrin masyarakat bahwa pihak tertentu ini adalah sesuatu yang sangat harus dimusuhi bahkan di musnahkan. Padahal, bisa jadi peristiwa yang terjadi ini merupakan peristiwa kecil yang seharusnya anak sekolah menengah saja bisa mendapatkan jawabannya. Masyarakat ketika mereka bisa memandangnya dari sudut pandang historis pasti mereka bisa melihat bahwa pihak ini memang sedari dulu telah membenci pihak tertentu itu, sehingga ketika ada sebuah peristiwa yang ditunggangi oleh pihak ini seharusnya masyarakat berhati-hati akan munculnya politisasi peristiwa. suatu peristiwa yang seharusnya menjadi hal yang tidak bermasalah pun bisa menjadi masalah besar ketika kita salah dalam menafsirkannya. Penafsiran ini sekali lagi dipengaruhi oleh emosi dan kebencian. Makin tinggi kebencian seseorang kepada orang lain, maka ketika ia mendapatkan informasi buruk meskipun sangat kecil keburukan itu, pasti akan mereka besar-besarkan untuk menyerang orang lain itu. Senjata mereka hanyalah “aji mumpung” tersebut. mereka menganggap bahwa masyarakat sangat mudah terprovokasi dan mungkin memang benar saat mereka dengan buasnya menyebarkan kebencian itu langsung saja menyebar ke seluruh lapisan masyarakat. Dan, masih beruntunglah jika banyak masryarakat yang tentunya rasio berfikirnya masih baik dan bisa menganalisa dan menafsirkan informasi itu secara utuh, tidak hanya ikut-ikutan terbawa emosi atas dasar kebencian.

Komentar

Postingan Populer